Assalamualaikum,
Dosenku waktu aku kuliah dulu sering bertanya kepada kami, sampai kami hapal, -Bagaimana jika kalian disuruh membangun/ mendisain rumah bordir/ prostitusi, apa kalian akan membuatnya?- Maka serentak teriak –Tidaakkk- tapi bagian yang lain berteriak –Iyaaa-. Bagi yang menjawab –Tidak- tentu saja karena faktor semua agama melarangnya. Bagi yang menjawab –Iya- ternyata lebih kearah sosial agar yang melakukan hal tersebut ada wadahnya. Edan yah:D Ups jangan dulu berfikir begitu karena alasan tersebut ternyata kuat sekali. Arsitektur dan interior sendiri secara umum adalah sebagai wadah kegiatan manusia. Dan jujur pak dosen itupun menyerahkan jawabannya kepada masing-masing kami. Tadinya aku gak ngerti kenapa pertanyaan tersebut bisa diluncurkan kepada kami, toh juga kebanyakan dari kami pasti menjawab –Tidak-. Tapi bagaimana dengan dunia kerja? Aku sendiri masih bocah yang baru tahu arti bekerja 2 tahun-an ini, bisa apa sih aku tentunya belum tahu apa-apa melainkan hanya sedikit saja.
Lalu muncullah pertanyaan dari seseorang ke aku waktu awal-awal aku kerja dulu –Kalau menggambar café, apakah keberatan?- yap dan kala itu aku dilema kata –Profesionalisme- (walaupun kadang aku juga kurang ngerti profesionalisme itu apa:D) dilema juga dengan prinsip. Iya benar dunia kerja itu harus fleksibel, harus mempertimbangkan juga aspek yang lain. Aku berfikir sebentar lalu menjawab, -Saya gak keberatan sebatas dining(buat makan), alangkah lebih baik saya tidak menggambar hal yang itu(sekitar minuman keras)-, beliau senyum, -Ok baiklah, saya setuju kalau begitu, tidak ada masalah kan selain hal yang itu?(sekitar minuman keras)- Aku jawab, -Sementara ini tidak:)-. Legaaa.. seperti terbebas dari beban berat, senang juga karena bisa menggambar café tanpa harus menggambar hal yang itu(sekitar minuman keras). Alhamdulillah ketua suku-ku baik sekali, beliau mau mengerti. Jarang-jarang juga punya atasan yang kekeluargaan seperti beliau dan menghargai kami sebagai anak didiknya. Aku sebut anak didik karena selama aku bekerja aku merasa seperti anak didiknya (tidak merasa ada batasan yang kaku antara atasan dan bawahan).
Bagi orang lain mungkin biasa aja menggambar hal yang itu(sekitar minuman keras), tapi bagi aku dah kayak dijatuhin setumpuk martil diatas kepalaku dan jujur rasa feel guilty-nya gak terbayang deh kayak apa(jujur gak mo bayangin karena alhamdulillah gak pernah bikin). Tapi yang lucu yah, siapa yang mengira yang menggambar café adalah orang yang jarang ke café, bahkan jarang juga ke restoran mewah(kadang-kadang aja), orang yang gak pernah dugem. Hmmm.. presepsi seperti itu juga diserahkan kepada masing-masing yang mempresepsikannya.
Sekarang didepanku ada gambar restoran Cina, bagaimana dengan display makanannya yang tentu saja bagi aku beberapa makanannya tidak halal bagiku? Iya, mungkin nanti akan dibicarakan kembali. Jangan gilaaa dunk.. hehehe
Selamat bekerja mbak, sembari meluruskan niat untuk itu.
-Salam premanG-
oya saya punya teman blogger yang sama2 sering nulis arsitek, coba kunjungi rumahkayubekas.wordpress.com
@premanG: Makasih, selamat bekerja juga pak:)
@antown: Di blog ini gak nulis ttg arsitektur krn mmg judul, topik, tema blognya gak kesana sdari awal, anggap aja ini dibelakang layar hehehe duileee:D
@fiz: Hehehe jd brasa seniman:D
@ario saja: makasih, saya juga msi hrs bnyak belajar:)
@ridu: itu juga gak diterima rid, memang mesti pilah-pilih dan hrs hati-hati. Segala sesuatu berawal dari niatnya maka aku stuju spt pak premang bilang luruskan niat. Ini diposting hanya berbagi pengalaman aja. So pasti cari yg halal dunk toh msh banyak rizki yg diberikan Allah pd kita. Setuju sama Ridu:)